{"id":442,"date":"2012-03-11T00:41:46","date_gmt":"2012-03-11T00:41:46","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=442"},"modified":"2012-03-18T19:30:22","modified_gmt":"2012-03-18T19:30:22","slug":"menentukan-klasifikasi-kegempaan-tanah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=442","title":{"rendered":"Menentukan   Klasifikasi  Kegempaan  Tanah"},"content":{"rendered":"<a class=\"wpptopdf\" target=\"_blank\" rel=\"noindex,nofollow\" href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=442&format=pdf\" title=\"Download PDF\"><img decoding=\"async\" alt=\"Download PDF\" src=\"http:\/\/blog.situsteknik.com\/wp-content\/plugins\/wp-post-to-pdf\/asset\/images\/pdf.png\"><\/a>\n<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http:\/\/quicksense.net\/ -->\n<div style=\"float:none;margin:10px 0 10px 0;text-align:center;\">\n<script type=\"text\/javascript\"><!--\r\ngoogle_ad_client = \"ca-pub-1978955812064543\";\r\n\/* situsteknik_728x90 *\/\r\ngoogle_ad_slot = \"8726851317\";\r\ngoogle_ad_width = 728;\r\ngoogle_ad_height = 90;\r\n\/\/-->\r\n<\/script>\r\n<script type=\"text\/javascript\"\r\nsrc=\"http:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/show_ads.js\">\r\n<\/script>\n<\/div>\n<div class=\"pf-content\"><p><em>Oleh :  SPL <\/em><\/p>\n<p>Untuk  perencanaan  bangunan  tahan  gempa  sesuai  peraturan  SNI 03-1726-2002  atau  standar  baru  SNI 03-1726  yang  akan datang;  diperlukan  data  klasifikasi  kegempaan  tanah  untuk  menentukan  besarnya  beban  rencana  gempa  yang  digunakan.  Besarnya  beban  gempa  rencana  gempa   dipatok  tidak  boleh  kurang   dari  0,8 Vi  pada  kedua  sumbu  utama  bangunan;  dimana  Vi  adalah  gaya  gempa  dasar  statik  ekivalen  yang  dihitung  dengan  rumus ;\n<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>                                    Vi   =    1\/R.  Ci.  i.  Wt      &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.      ( 1 )\n<\/p>\n<p>Ci  adalah  koefisien  gempa  yang  ditentukan  dari  letak  Zona  gempa  lahan,  waktu  getar  alami sistim  strukturnya   ( T ) dan  klasifikasi  kegempaan  tanah  lahan  bangunan  tersebut.  Klasifikasi  kegempaan  lahan  dibedakan  untuk  jenis  tanah  keras,  tanah  sedang,  tanah  lunak  dan  tanah  khusus.  Kriteria  jenis  tanahnya  ditentukan  berdasarkan  bobot  nilai  rata-rata  dari  parameter  Vs  (shear-wave  velocity ),  parameter  Su (  undrained  shear  strength )  atau  nilai  N  SPT  yang  didapat  dari  kondisi  permukaan  tanah  sampai  lapisan  sedalam  30 m  dibawahnya.  Kriteria jenis  tanah  harus dihitung dari sedikitnya  2  parameter yang  disebut  diatas.  Jika  didapat 3  parameter  tanah,  klasifikasi kegempaanya  ditentukan  dari  hasil  2  krietia  yang  sama;  jika  hanya  ada  2  data  parameter  tanah,  yang  dipakai   adalah  yang  menghasilkan kriteria  tanah  lebih  lunak.\n<\/p>\n<p>Dalam  praktek  penyelidikan  tanah  di  Indonesia,  data  Su  dan  N   selalu  diperoleh;  tetapi  untuk  mendapat  data  Vs,  perlu  dilakukan  pengujian  khusus  yang  relatif  mahal  dan  memerlukan  keahlian  khusus untuk  melaksanakan   dan  menginterpretasikanya.   Menurut  SNI 03 \u2013 1726 \u2013 2002;  untuk  menentukan  klasifikasi kegempaan  tanah  harus  diperhitungkan  dari  paling  sedikit 2 diantar  3  parameter  tanah  tersebut  diatas.  Untuk  proyek  pembangunan yang  tidak  terlalu  besar,  biasanya  ahli  geoteknik\/struktur  ingin  menghindari  penyelidikan  data  Vs  karena  mahal.  Data  N  yang  biasanya  diambil  dengan  selang  interval  sebesar  1,50  m  sepanjang  pengeboran    selalu   dapat  dipakai  untuk  menghitung  klasifikasi kegempaan  dari jenis  tanah.  Namun  biasanya  data  Su  hanya  terdapat  dari  uji  laboratorium  ( biasanya  triaxial  UU  test ) dari  contoh  &#8221;  undisturbed &#8221;  yang  diambil  dengan  interval  lebih  jarang.  Lagipula,  contoh  Tanah  &#8220;undisturbed &#8221;  biasanya  tidak  diambil  pada  lapisan tanah  keras  (  N &gt;  50 ).   Maka  dirasakan  perlunya  menggunakan   data  korelasi  parameter  tanah   lain  untuk  menentukan  Su   maupun  Vs.  Data  korelasi sudah  cukup  banyak  diliteratur  luar  negeri,  bahkan  rekan kita  Dr. ir Widjojo  Prakoso    (2011 ) telah  melakukan  penelitian korelasi  Vs  dengan  qc  dan  SPT  untuk  tanah  di  Jakarta.  Ada  sedikit  masalah  mengenai  korelasi  nilai  N  untuk  parameter  Vs  ataupun  Su,  jika  nilai  N  sudah  digunakan sebagai salah  satu  kriteria  penentuan klasifikasi  kegempaan lahan tersebut;  sebab  jika N  dipakai lagi  untuk  korelasi,  akhirnya  kita  hanya  mengandalkan data  dasar  satu  yang  sama,  yaitu  nilai N.  Namun  untuk  lapisan tanah  keras,  biasanya  tidak  ada  data  qc. maupun  Su;  maka  kiranya  untuk  jenis  tanah  tersebut,  harus  dicari nilai  Vs  dari  korelasi parameter  tanah  lain. Kesukaran  menggunakan  parameter  Su  juga  terutama  untuk  mendapatkan  nilai  Su  pada  lapisan  tanah  keras.  Kiranya  menjadi  tantangan Dr.  Widjojo P  dan  timnya   untuk  mencari  korelasi  Vs  atau  Su  dari  parameter lain  dari  pada  N.  Penulis  berpendapat  untuk  proyek  perencanaan  bangunan  biasa ,  dapat   diterima  jika  nilai  Su  untuk  bagian  lapisan  tanah  keras  diasumsikan  saja  secara  konservatif,  asal  data  Su  dilapisan  lain  cukup  representatif.\n<\/p>\n<p>                                                           &#8212;oo000oo&#8212;\n<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>                                       \u00a0<\/p>\n<\/div>\n<div style=\"font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : SPL Untuk perencanaan bangunan tahan gempa sesuai peraturan SNI 03-1726-2002 atau standar baru SNI 03-1726 yang akan datang; diperlukan data klasifikasi kegempaan tanah untuk menentukan besarnya beban rencana gempa yang digunakan. Besarnya beban gempa rencana gempa dipatok tidak &hellip; <a href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=442\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/442"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=442"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/442\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":520,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/442\/revisions\/520"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=442"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=442"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=442"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}