{"id":867,"date":"2014-04-07T20:29:01","date_gmt":"2014-04-07T20:29:01","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=867"},"modified":"2014-04-09T22:13:15","modified_gmt":"2014-04-09T22:13:15","slug":"t-e-m-a-n-b-a-i-k","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=867","title":{"rendered":"T E M A N    B A I K"},"content":{"rendered":"<a class=\"wpptopdf\" target=\"_blank\" rel=\"noindex,nofollow\" href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=867&format=pdf\" title=\"Download PDF\"><img decoding=\"async\" alt=\"Download PDF\" src=\"http:\/\/blog.situsteknik.com\/wp-content\/plugins\/wp-post-to-pdf\/asset\/images\/pdf.png\"><\/a>\n<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http:\/\/quicksense.net\/ -->\n<div style=\"float:none;margin:10px 0 10px 0;text-align:center;\">\n<script type=\"text\/javascript\"><!--\r\ngoogle_ad_client = \"ca-pub-1978955812064543\";\r\n\/* situsteknik_728x90 *\/\r\ngoogle_ad_slot = \"8726851317\";\r\ngoogle_ad_width = 728;\r\ngoogle_ad_height = 90;\r\n\/\/-->\r\n<\/script>\r\n<script type=\"text\/javascript\"\r\nsrc=\"http:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/show_ads.js\">\r\n<\/script>\n<\/div>\n<div class=\"pf-content\"><p>\n\u00a0<\/p>\n<p><span style=\"font-size:14pt\"><strong>Periode I<br \/>\n<\/strong><\/span><\/p>\n<p>                                                                                                                                                      Oleh :  spl.\n<\/p>\n<p>            Semua  orang  tentu  mempunyai  teman  baik,  namun  jika  ditanya  mengapa ia  dikatakan  teman baik; maka  jawabannya  sangat  tergantung  pada  orang yang  ditanya;  dan hampir pasti  umumnya tidak  ada  sesuatu yang  dapat  dianggap berlaku universal.  Jika  pertanyaan  diteruskan  dengan apakah  dulu mempunyai teman baik  dan  apakah  sekarang masih  selalu berhubungan,  mungkin  jawabannya lebih  bervariasi lagi.  Kiranya  hal itu menunjukkan  bahwa  tidak  mudah  mendefinisikan  arti  teman  baik.  Bagi  saya daripada  pusing pusing  mencari  definisi yang tepat  dan benar; saya  pilih yang  mudah dan  sederhana  saja. Semua  orang yang pernah berteman atau berkenalan  dengan kita  dan jika  sekarang  saya mengenang atau mengingat mereka, masih selalu memberikan kenangan yang manis dan menyenangkan,  maka  kita  dapat  kategorikan  mereka  sebagai &#8220;teman  baik&#8221;.\n<\/p>\n<p>           Dengan definisi yang sangat sederhana tersebut,  mendadak  saya  merasa dalam  perjalanan hidup  saya yang  yang  cukup  panjang; saya  termasuk orang yang  &#8220;kaya&#8221; teman  baik.  Dengan  kekayaan  ini,  rasanya  kita patut  bersyukur  pada  yang  Maha  Esa  yang mendatangkan  mereka  dalam  perjalanan hidup kita.  Oleh karena  mengenang  mereka  selalu  mendatangkan perasaan yang menggembirakan dan kadang kadang masih  mendatangkan syahdu kerinduan  untuk  bertemu,  maka  saya  coba  gali dari ingatan  saya,  siapa  siapa  yang termasuk teman baik  saya.  Tentu diantara  mereka  sudah  ada  sebagian yang telah  meninggal  dan  sebagian  besar juga sudah tidak pernah  berhubungan lagi  dan  saya tidak  tahu  dimana  mereka  berada ;  namun  semuanya masih dapat  dianggap  sebagai teman  baik  saya.<br \/>\n<!--more-->\n<\/p>\n<p>          Saya  akan mulai  dengan  mereka  yang berteman  pada  periode waktu saya  masih baru masuk  sekolah.  Oleh  karena  saya  dilahirkan  pada tahun 1933, maka  periode tersebut  mencakup periode  sebelum Jepang  masuk ke Indonesia sampai zaman  kemerdekan Indonesia.  Saya  tinggal dikota  kecil dilereng selatan gunung Slamet sampai umur kira kira 16 tahun;  sesudah  itu hidup  saya selalu sekolah atau  bekerja  diluar kota  kecil saya. Rumah  saya berupa  warung  yang  menjual  berbagai keperluan  rokok merokok, keperluan bumbu dapur, polowidjo  dan  berbagai macam barang pokok makanan yang  dapat dan laku dijual  serta  tidak  cepat  membusuk. Rumah  saya  berdiri  dipinggir jalan  besar yang  merupakan  urat nadi  kegiatan ekonomi dan jalur utama menuju kota kota lainya. Tetangga  sebelah kiri  atau sebelah  barat  rumah saya  adalah toko\/tukang mebel,  toko\/tukang foto,  tukang gigi dan  selanjutnya berupa toko toko kelontong, toko kain dan toko batik berselang  seling ;  baik yang berskala warung maupun yang  berskala toko.  Sebelah timur  rumah  saya adalah toko\/tukang  emas, produsen  batik,  rumah tinggal biasa  toko roti  dan selanjutnya ada  beberapa warung nasi dan warung makanan kecil sampai alun2  yang merupakan pusat  kota. Alun alun dibelah dua  oleh jalan  besar,  namun  seperempat  luas alun alun masih cukup untuk  main bola sepak  versi kampungan. Alun alun dikeilingi mesjid utama, kabupaten dan  kediaman bupati, kantor pos,  penjara, sekolah negeri dan beberapa rumah  dinas  pejabat lain.  Diantara  rumah rumah tersebut diatas, ada  juga  diselingi  rumah  gedung yang  hanya  merupakan rumah tinggal  yang  umumnya cukup  luas pekarangannya,  karena umumnya  merupakan rumah orang Tionghoa yang  tergolong kaya.\n<\/p>\n<p>        Teman  main  saya  waktu  kecil  terutama  adalah mereka yang  menjadi  tetangga dekat saya; terutama dua saudara  (Honggun  dan  Hongyu) yang tinggal  dikiri rumah saya. Mungkin  karena asalnya tanah tersebut merupakan  satu pekarangan yang dibagi dua,  bagian belakang  rumah  kami hanya dipisahkan dengan  pagar  bambu dengan  pintunya  yang  hampir selalu  terbuka; oleh karena itu  anak anak dapat keluar masuk antara kedua rumah  bertetangga  tanpa  diperdulikan  penghuni lain. Sebenarnya  tetangga  saya banyak anaknya  selain kedua anak  lelaki  yang  telah disebut  dimuka;  namun kala  itu anak  laki praktis tidak pernah  bicara dengan  anak  perempuan dan lagi  biasanya  anak perempuan serta  anak lelaki yang perbedaan  umurnya cukup  banyak,  tidak termasuk hitungan dalam pergaulan anak  lelaki sebaya. Hongyu  dan  saya umurnya  sebaya dan tinggi  badannya  praktis  sama dan  terbilang agak kecil untuk ukuran umur kami.  Secara  fisik, Hongyu lebih  kuat  dari  saya, sehingga  meskipun sudah berusaha keras,  saya selalu kalah bersaing dalam permainan\/pekerjaan  yang bersifat  fisik.  Kami  berdua hampir  sukar  dibedakan  termasuk  anak keluarga  mana; karena kegiatan dan pekerjaan rumah mana dan  apa  saja, praktis dikerjakan bersama. Hongyu  dan Honggun  sifatnya  sangat  berlainan.  Seperti  kebanyakan  anak  lainnya ,  Hongyu tidak tertarik pada bacaan atau  kegiatan  yang  memerlukan banyak pemakaian  otak  &#8211;  sifat ini  terlihat agak ekstrim  pada  Hongyu;   sebaliknya Honggun  justru  kutu  buku dan bacaaan apa  saja dilalap  habis sehingga  tidak terlalu  minat  mengikuti permainan anak anak.  Waktu  umur  masih kecil, praktis saya tidak  bergaul dengan  Honggun,  tetapi  menanjak besar dan  bisa  membaca,  saya  lebih  bergaul  dengan  Honggun  daripada Hongyu;  karena  saya  sendiri juga  sangat  suka  membaca  tulisan  apa  saja.  Selain  buku  cerita  silat, segala  novel orang  dewasa pada  majalah majalah ataupun perdebatan  mengenai sesuatu masalah social politik,  selalu  saya  baca.  Tentu  saja  pengertian dari  bacaan  yang  saya  baca masih  terbatas  sekali.\n<\/p>\n<p>       Dijaman  Belanda,  saya  sudah  masuk  sekolah sampai mencapai kelas 3 SD. Sekolah saya  di  HCZS,  sebuah sekolah zending (swasta ?) Kristen,  tetapi factor keagamaan  sepertinya  tidak diajarkan.  HCZS adalah  kependekan  dari Holandse  Chinese  Zending  School, akan  tetapi  ternyata murid2-nya  bukan  hanya dari etnis  Tionghoa. Akan tetapi  campuran  segala etnis. Karena tiap  hari  jalan  kaki kesekolah  dan  banyak anak  tetangga yang masuk HCZS,  teman2 saya agak berbeda  dengan teman main  sebelumnya. Honggun sekolah  di HIS dan  mungkin Hongyu juga. Yang menjadi teman  baik  saya  adalah Abdul, seorang anak keturunan  Arab yang  rumahnya  persis  dimuka  rumah  saya.  Untuk umurnya, ia  termasuk  tinggi besar, jadi saya  hanya kira kira  sepundaknya  saja.  Waktu  kecil,  saya amat pemalu dan penakut,  jadi berjalan  bergandengan dengan Abdul  (sayang tidak  ada  fotonya,  mungkin  suatu  pemandangan yang lucu) serasa &#8220;protected&#8221;,  karena  ia tidak pernah  diggoda-goda anak  lain  dan  mungkin anak lain juga tidak  berani menggoda dia  karena besar badannya. Ia  orangnya  baik  dan tidak pernah  menggoda  anak  yang lebih lemah.  Pergaulan dengan Abdul  mungkin  sangat  singkat, karena  waktu Jepang datang, mereka sekeluarga  pindah rumah,  meskipun  masih dalam 1 kota.  Akan  tetapi  pergaulan anak anak kedua keluarga  sepertinya  cukup  rapat juga,  karena adik  perempuannya (Latifa) teman adik perempuan saya  yang umur  dan kelasnya sama. Adik  lelaki bungsunya (Feisol)  adalah  teman  main  adik  lelaki bungsu  saya.  Setelah dewasa, saya hanya  pernah ketemu Abdul  sekali,  waktu itu  mereka  sudah pindah ke Jakarta. Waktu  sekolah di HCZS, ada teman yang  masih  memberikan kesan mendalam pada  saya.;  mereka  adalah  bersaudara  Suwarno dan  Suyitno,  anak  bupati  kota  kami  waktu itu.  Tentu  sebagai  anak  kecil, pertemanan  itu  tidak pernah terkait dengan apakah ia  anak orang  kaya  atau anak pejabat;  saya mungkin  lebih  memilih teman yang termasuk  alim dan tidak nakal.  Mereka  sepertinya  sangat dilindungi, karena  ada   adiknya  yang  duduk dikelas II,  mereka  masih didampingi pembantu pada   waktu istirahat  yang  membawakan  makanan ringan;  tentuya karena  mereka  tidak  diperbolehkan membeli  sembarang  jajanan. Seingat  saya,  pada  waktu itu, umumnya  juga  tidak ada anak yang membeli  maupun orang  menjual  jajanan.  Makanan  ringan yang  disiapkan untuk mereka, rasanya lux untuk ukuran waktu itu. Antaranya  yang saya  masih ingat  adalah roti  yang  diisi telor dan  selai.;  soalnya  saya  tempo tempo  dibagi juga makanan  ringan mereka. Bupati  rupanya  masih kerabat dekat keraton  Solo, tata  cara  mereka  sangat  halus dan Suyitno tampangnya  ganteng  sekali.  Jika  saya diajak kerumah mereka \u2013 hanya  sampai pendopo;  baru  tahu  tata  cara feodal dari  cara berjalan (jongkok) pembantu2 dirumahnya.  Pertemanan dengan  mereka  hanya  kira kira setahun,  karena  Bupati keburu  dipindah tugaskan ketempat lain. Yang  sekarang  saya  anggap agak  lucu,  meskipun saya  sekolah Belanda;  namun  tidak pernah diajar oleh  guru Belanda. Waktu  saya  mulai  masuk  sekolah,  guru  saya  adalah  juffrouw  Reni yang menurut  kesan  saya ia  memakai sarung kebaya  bukan  rok.  Muka  juffrouw  Reni  sudah tidak terbayang  jelas,  namun  saya  merasa  sangat  dilindungi oleh beliau.  Mungkin  jika  saya  menangis  atau  ketakutan  waktu  digoda teman teman, saya  selalu  dirangkul  dan  diperbolehkan melendot padanya. Kesan  aroma bau kain  batik sogan  dan baru diseterika sepertinya  melekat  dalam benak  saya  sampai  sekarang dan mendatangkan perasaan  aman dan  damai.  Guru  berikutnya  dikelas II dan  kelas III  adalah juffrouw  Siem, seorang  keturunan  Tionghoa yang  orang tuanya  memang  tinggal dikota  kecil  kami.\n<\/p>\n<p>       Ketika  Jepang  mulai datang,  kita semua  menjadi  miskin   karena mata uang Belanda  dianggap  tidak  berlaku dan perdagangan  dan kegiatan  ekonomi  praktis  berhenti sama  sekali.  Pembantu laki laki  semua pulang kampung  karena takut dijadikan  romusha  oleh  Jepang.  Kota kota  praktis  terisolir,  karena  dalam praktek  tentara Jepang hanya  dapat  mengurus  sampai  dalam  kota kota  saja. Bahan makanan  utama  seperti  beras dll hanya bisa  didapat  dari pembagian lewat kupon  dan  baru belakangan  bisa  didapat secara  umum. Keperluan bahan bahan makananan lain,  praktis dilakukan dengan cara  barter. Entah berapa lama kemudian, sekolah  mulai dibuka. Gedung sekolah  HCZS  di gunakan untuk  sekolah Jepang\/Tionghoa; akan tetapi  guru gurunya sebagian besar  direkrut dari  kalangan orang  Tionghoa setempat dan tidak ada  guru bangsa  Jepang.  Meskipun  dinamakan  sekolah Jepang\/Tionghoa, bahasa  pengantarnya adalah  bahasa Indonesia\/Melayu.  Entah  mengapa,  semua  muridnya  adalah orang Tionghoa dan tentu kalangan pergaulan juga menjadi  berbeda  dari  waktu zaman  Belanda. Ini  karena  bekas  murid  ELS,  murid  HCZS, murid HIS  dan  lain lain   bergabung menjadi satu. Kelihatannya asal usul  sekolah  menyebabkan perbedaan pergaulan sosial muridnya; secara  garis  besar dibedakan yang  babah  dan yang totok. Keistimewaanya sekolah selalu  dimulai  dengan upacara, mulai dari  penghormatan bendera Jepang dan sumpah  dalam  bahasa  Jepang  yang  maksudnya mungkin sumpah  setia  pada kerajaan Jepang.  Baris  berbaris  sambil  menyanyikan lagu lagu  Jepang  merupakan kegiatan rutin. Masih  banyak lagu  yang  sampai  sekarang  masih ingat, tetapi rasanya  sudah tidak  orisinil sebab  tercampur bahasa Jawa  untuk  lelucon.  Periode  ini lebih  banyak  mainnya  daripada  sekolahnya, namun  jika  dipikir-pikir  aneh juga  sepertinya  jumlah teman  baik tidak bertambah;  mungkin lingkup pergaulan  hanya  terbatas pada  anak tetangga tetangga  dekat  yang itu itu juga.  Seperti telah  disinggung dimuka, perbedaan asal usul sekolah  sepertinya  membedakan strata pergaulan  antara yang babah dan yang  totok.  Golongan anak anak  babah relative  umurnya lebih besar  dan sudah membentuk etika  pergaulan  dan  etika  tata  cara  berpakaian yang dipengaruhi  sekoleh Belanda.  Dalam  hal ini,  golongan  murid yang  termasuk golongan totok dianggap tidak  memenuhi standar  kebiasaan pergaulan anak babah  dengan latar  bakang keuangan keluarga  yang lebih  mapan. Mereka  (golongan  totok)  dianggap tidak  rapi berpakaian, kurang menjaga  kebersihan&#8212; terutama  yang  masih kecil kecil  dsb.  Oleh  karena  itu,  dalam  pergaulan sering sering dikucilkan;  bahkan  ada  anak anak golongan  babah yang  suka menteror  secara psikis  atau fisik.  Meskipun saya termasuk  golongan babah, sering  saya  harus membela anak golongan totok yang  diperlakukan secara keterlaluan oleh murid  golongan babah yang  nakal.  Oleh karena  itu, saya jadi  termasuk murid yang lebih  banyak  bergaul  dari golongan totok ketimbang golongan sendiri. Biasa anak anak dimana saja  selalu  suka  saling  menggoda atau  menggoda anak yang lebih kecil, namun  secara  etika umumnya penggodaan  itu  akan dihentikan jika yang  digoda  telah  merasa marah  atau menunjukkan  rasa  tidak  senang, sehingga tidak  mencederai pergaulannya.  Ada  teman  yang badannya jauh  lebih  besar  dan  menggoda  terus menerus;  meskipun  saya  sudah  berkali-kali mengatakan saya  sudah  tidak senang lagi,  ia  masih  terus melucu dan  menggoda goda  saya  sehingga  saya  benar  menjadi  sangat marah.  Saya  ambil  saja  batu yang  agak  besar  serta terus  memburu dan setelah  dekat  melemparkan  padanya.  Saya  sempat lihat mukanya pucat  pasi  ketika  saya  melempar &#8220;batu&#8221; sekuat tenaga dan ia  tidak dapat  menghindar;  untung  rupanya  itu bukan  batu beneran dan hanya  tanah yang lama menjadi  satu dengan  bekas  bola  karet  latex sehingga bentuk dan warnanya  persis  seperti  batu sehingga  ia terhindar  dari cedera  berat.  Rupanya  peristiwa itu  dilihat banyak teman teman lain,  sehingga antara semua  teman teman  tidak  ada  yang menggoda  kelewat  batas ;  karena  mereka  melihat saya  akan melawan  mati- matian siapa  saja yang  sudah  keterlaluan.  Bagi saya sendiri, peristiwa ini  rupanya  menjadi  dasar pertumbuhan kepercayaan  diri yang akan terbentuk pada  periode  pergaulan kedua  yang akan  disambung ceritanya.\n<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>                                                             &#8212;ooooo000ooooo&#8212;<\/p>\n<\/div>\n<div style=\"font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Periode I Oleh : spl. Semua orang tentu mempunyai teman baik, namun jika ditanya mengapa ia dikatakan teman baik; maka jawabannya sangat tergantung pada orang yang ditanya; dan hampir pasti umumnya tidak ada sesuatu yang dapat dianggap berlaku universal. &hellip; <a href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=867\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[45],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/867"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=867"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/867\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":882,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/867\/revisions\/882"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}