{"id":885,"date":"2014-04-18T21:02:21","date_gmt":"2014-04-18T21:02:21","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=885"},"modified":"2014-04-18T23:23:15","modified_gmt":"2014-04-18T23:23:15","slug":"teman-teman-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=885","title":{"rendered":"TEMAN  TEMAN   BAIK"},"content":{"rendered":"<a class=\"wpptopdf\" target=\"_blank\" rel=\"noindex,nofollow\" href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=885&format=pdf\" title=\"Download PDF\"><img decoding=\"async\" alt=\"Download PDF\" src=\"http:\/\/blog.situsteknik.com\/wp-content\/plugins\/wp-post-to-pdf\/asset\/images\/pdf.png\"><\/a>\n<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http:\/\/quicksense.net\/ -->\n<div style=\"float:none;margin:10px 0 10px 0;text-align:center;\">\n<script type=\"text\/javascript\"><!--\r\ngoogle_ad_client = \"ca-pub-1978955812064543\";\r\n\/* situsteknik_728x90 *\/\r\ngoogle_ad_slot = \"8726851317\";\r\ngoogle_ad_width = 728;\r\ngoogle_ad_height = 90;\r\n\/\/-->\r\n<\/script>\r\n<script type=\"text\/javascript\"\r\nsrc=\"http:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/show_ads.js\">\r\n<\/script>\n<\/div>\n<div class=\"pf-content\"><p>PERIODE II\n<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>Oleh: SPL\n<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>           Seperti yang telah  dijelaskan  dalan  tulisan  Teman  Baik  Periode I,  periode  I   meliputi  periode sampai  proklamasi kemerdekaan yaitu sampai  tahun 1945.  Oleh  karena  itu,  periode II meliputi periode akhir 1945 sampai penyerahan kedaulatan oleh Belanda pada  tahun  1950.  Bagi daerah kota kecil kami, kekuasaan Republic Indoneia setelah proklamasi kemerdekaan   sampai  tahun 1950, praktis hanya  sekitar 1 \u00bd  tahun. Hal  ini disebabkan Belanda  telah menduuki  kota  kami setelah   penyerbuan yang  dikenal dengan politieke  actie kedua  oleh  Belanda  pada   tahun  1947\n<\/p>\n<p>          Sebagai  anak  kecil,  saya  tentunya  tidak terlalu  sadar akan  perubahan\/peralihan   kekuasaan  yang  berlangsung  dan tidak jelas kapan  dan  bagaimana  persis  terjadinya   serah  terima  dari  Jepang ke Republik  Indonesia  dan  kapan  serbuan  yang  disebut  politieke actie   Belanda  benar benar menguasai kota  kecil  kami  (  kira  kira  sekitar  sebelum  akhir 1947 ) .  Yang jelas,  kelihatanya  peralihan  kekuasaan  ini  tidak  terlalu  menyebabkan keguncangan  penghidupan  penduduk kota kecil kami  , meskipun  pada  periode  peralihan  ini,  semua  kegiatan sekolah  ditutup.<br \/>\n<!--more-->\n<\/p>\n<p>         Setelah  Jepang  menyerah pada  sekutu,  dikota  kami ditampung  pengungsi  dari  kota kota  kecil  sekitar  Bumiayu \u2013Cilongok yang  menjadi korban tindak pelanggaran HAM terhadap penduduk, keturunan Tionghoa  oleh  gerombolan yang  tidak bertanggung jawab ;  berupa  pengungsian paksa  dan  malah  ada juga  pembunuhan oleh  gerombolan  orang lokal yang jahat.  Katanya  mereka  mula mula dikumpulkan  dan  dipisahkan  antara warga kaum  perempuan \/anak anak  dan  kaum lelaki.  Banyak  diantara  orang lelaki  yang  dibunuh.  Mereka  digiiring pindah pindah  dan baru  tertolong setelah  bertemu kelompok pejuang RI yang  baik dan  diantar kekota kota yang agak  besar yang  kondisinya lebih aman  dan  dikuasai Republik  Indonesia.. Dikota kota  tempat  pengungsian,  mereka  yang mempunyai famili  ditampung ditempat kerabatnya, namun  yang  tidak  mempunyai famili, ditampung ditempat  penampunagan  khusus.   Daerah  sekitar  kota  kami tidak  terjadi  hal hal  demikian,  sehingga  kami  anak anak  tidak  merasa  takut  berkeliaran seperti  biasa ke  desa desa  disekitarnya.   Agak  aneh  juga, karena  menjelang invasi Jepang, para  warga  keturunan  Tionghoa  umumnya mengungsi kegunung dan  desa desa  yang  agak  terpencil   untuk  menghindar pemboman Jepang, namun pada  waktu  Jepang  menyerah ,  mereka   malah  mengungsi  kekota  yang lebih besar dan aman.\n<\/p>\n<p>               Rumah  kami  juga  menampung  beberapa  orang  famili  yang  menjadi  takut tinggal  dikota sangat kecil\/desa, namun umumnya  hanya kaum perempuannya;   yang lelaki  masih tetap  dirumahnya  didesa. Terpaksa gudang yang kondisinya  baik dibersihkan  dan  digunakan  menjadi  kamar kamar tidur.  Saya tidak ingat  bagaimana  proses dan  pernyediaan makanan  diatur, namun  saya  ingat kami agak repot  menyediakan air untuk masak dan  mandi.  Dirumah kami tidak ada  sumur  dan  instalasi  air  ledeng tidak jalan.  Keperluan  air  diminta  dan diambil dari  sumur tetangga.  Tugas  menyediakan air  ini jatuh  dipundak saya,  karena  kakak lelaki  saya  sudah  akil baik dan dianggap &#8220;tidak elok &#8221;  untuk  blusukan mengambil  air dari tetangga ( rumah Hongyu ).  Saya praktis  sehari  2 kali mengambil  air dari  sumur yang  airnya  sekitar 10 m dibawah  muka  tanah  dan  membawa  air  ke dapur atau ke kamar  mandi yang sekitar  40 m  jaraknya  dari  sumur.  Kami mempunyai  2  kamar  mandi, masing  mempunyai    2  buah bak air yang sekitar  1 meter kubik volumenya,  sehingga  praktis tiap hari  saya mengambil  4 m3 air untuk mengisi bak-bak air tersebut. Saya  biasanya  setengah  berlari membawa  2 buah  ember berisi  air,  dalam imaginasi saya  seakan \u2013akan  ini  adalah  cara  latihan  yang banyak diceritakan  dalam cerita  silat.  Hal ini  tentu membantu  saya  tidak  merasa susah\/sedih  harus  membawa  air tersebut.  Yang membuat  saya agak kesakitan  adalah  waktu menarik  ember air dari  sumur;  karena  tali  yang dipakai  adalah  dari  ijuk, sehingga ada  bagian yang menusuk-tusuk telapak  tangan  jika  saya  mencengkeram  tali  tersebut.  Saya  masih  ingat,  melihat  saya  agak  kesakitan,  kadang kadang  Hongyu ikut  membantu menarik ember air dari  sumur.  Rupanya  tidak  terasa,  proses  pengambilan  air ini sangat  membantu  kesehatan dan kekuatan  badan saya.   Meskipun  badan tetap  kecil dan  kurus,  tetapi  menjadi lebih  lincah dan  kuat.  Kelincahan  saya  juga  saya  latih  dengan seing sering  menangkap  ayam  yang berkeliaran dikebun.\n<\/p>\n<p>           Seperti  telah disinggung  dimuka, periode peralihan  kekuasaan ini  ditandai dengan   terhentinya  kegiatan  sekolah.  Tentu  hal ini menjadikan  anak anak  lebih punya  waktu  luang  dan  bagusnya tidak  saja  permainan  anak anak,  namun  kegiatan olah raga  juga  mulai lebih bertumbuh.  Jika  semula olah raga  serius  saya hanya  main sepak bola , namun  tentu  kwalitasnya  tidak  serius  karena  bola  yang  digunakan  seadanya. Selain  sisa  bal tenis  yang  sudah  gundul  bahkan  tersisa  warna  hitam  karetnya, bola sepak lain  biasanya  adalah bola  lateks.  Bola  ini  sangat ringan, sehingga jika  ditendang berlawanan  kearah  angin  yang  keras, lama kelamaan bukan melaju  malah berbalik  arah.  Oleh  karena  itu, sebelum  digunakan, biasanya  bola  dibungkus  dengan pelepah  pisang kering yang  di-ikat  dengan  anyaman  tali.  Tentu  saja karena  ditendang tendang,  maka  pelepah  tidak  tahan lama  sudah  rusak .  Bola  tenis  karena  kecil,  hanya  bisa  dipakai main sepak  bola dilapangan yang  rata  seperti  lapangan tenis. Akan  tetapi sering  juga  dipakai  dilapangan rumput yang agak rata. Menendang  bola  tenis memerlukan  presisi yang  akurat, jika  tidak , maka  tanah  atau batuan yang ditendang  sehingga  melukai   kaki.  Saya  senang  sekali  berlatih  menendang  bola  tenis kedinding yang berada  agak jauh dari lantai, sehingga  dapat  main tenis sendirian  dengan  hanya  menggunakan  kaki.  Tentu  saja  kalau melakukan  smash, bola  akan  mental  jauh kebelakang dan permainan  perlu  diakhiri untuk mencari kemana  larinya  bola tenis tersebut.  Teman  teman main sepak bola, selain yang  umurnya sebaya, tetapi tergabung juga  mereka  yang umurnya lebih tua  sedikit. Teman sebaya selain saya dan Hongyu,  lainya  yang dianggap pemain baik  adalah  Ahing.  Meskipun  badanya  lebih pendek  dari  Hongyu,  ia  pandai  sekali  menggoreng  bola.  Lainnya  adalah  Kwatsik , kakak  Ahing  dan  dua  bersaudara kembar, Wawi dan Wawin.  Dalam  permainan bola  yang  dilakukan  hampir tiap  hari, kami berenam    selalu  absen  dan merupakan pemain inti regu  sepak  bola  kami.  Terus  terang saya  lupa  teman main bola lainnya  siapa  saja,  tetapi  tentunya  semua  anak anak tetangga.                                                                                                                                                                             Selain main  sepak bola,  Hongyu dan  saya juga  main badminton.  Pada  waktu itu  dirumah saya  dibuat  lapangan badminton.   Sebelum  orang dewasa  mulai  main, kami  berdua  selalu  main miain  dengan raket  kayu  dan  bola badminton rusak  yang  diperbaiki.  Oya,  kala itu ada  teman  main badminton lain, yaitu  kakak perempuan  saya.  Belakangan setelah  boleh  meminjam raket beneran, Hongyu  agak  tersingkir karena  hampir  selalu  kalah  dengan   kami.  Kakak perempuan saya orangnya   tomboy  dan  gemar berolah  raga,  Jika  main  sepak bolanya  dirumah, ia  ikut main  juga.  Ada suatu  saat dimana  kami  berdua  saling mengalahkan dalam pertandingan  badminton.  Kakak  saya  orangnya  sangat ngotot bermainya,  setiap hari  ia  menantang  bertanding  badminton dengan  saya.  Jika  saat  ia  menang terlihat  senang  dan  puas,  tetapi  jika kalah  kelihatanya  sedih  sekali.   Entah  mengapa  suatu waktu  saya sengaja  mengalah,  tetapi  kakak saya  malah  jadi marah  sekali  dan  mengatakan  saya  tidak  sportif.  Oleh  karena  itu, jika  tidak mau kalah terus,  maka  saya  harus  main  mati-matian.  Selain  kedua  macam  olah  raga  tadi, waktu  itu  Kasti juga  menjadi  semacam  olah raga nasional untuk sekolah -sekolah.  Saya  sendiri cuma ikut-ikutan   main,  tetapi tidak terlalu  berminat.  Ada  teman yang umurnya  sedikit lebih besar yang  namanya  Pakseng.   Badanya  biasa biasa  saja, tetapi   dia  memang  benar benar  jago.  Lemparan  bolanya  bukan  saja  keras, tetapi  arahnya selalu tepat  ( titis \u2013 bahasa  Jawanya).  Rupanya  ia  punya  bakat berburu  burung  dengan   katepel , ia  hampir  selalu dapat  burung, sehingga  menjadi  idola  banyak teman teman  laki laki.   Bentuk  katepelnya  agak unik, bukan  seperti  huruf  Y  yang  biasa,  tetapi  bulat sepertii  pegangan  gagang  payung atau gagang  pisau  dengan celah  bukaan V yang  relatif  kecil untuk  mengikat  2  tali karetnya  dibagian  atas.   Tali  karetnya  agak lebih  kecil dari lebarnya  lebih  kecil  dari  karet  katepel  umumnya,  tetapi ia pilih  yang  karetnya  yang  masih kuat dan agak  tebal   Banyak teman yang minta  dibikinkan\/beli   katepelnya.  Ia juga  pintar membuat mata  pancing,  terutama  mata  pancing  yang  kecil, umumnya  kami  minta\/beli dari  dia.  Dari  dia  saya  juga  belajar  bagaimana  cara memancing ikan ikan kecil dikali.\n<\/p>\n<p>           Main  bola  basket  juga  mulai  dikenal  dikota  kami;  waktu itu rupanya  semua  sekolah Tionghoa mempunyai  regu  basket.  Disekolah  saya,  terlihat belajar  main basket juga  menjadi  semacam  pelajaran bagi  mereka  yang  badanya  mencapai  tinggi  tertentu.  Kebetulan  Hongyu dan  saya tidak  masuk  kwalifikasi yang ditentukan,  jadi  mula mula  kami  berdua belum   boleh  ikut main  basket,   sehingga  hanya   dapat melihat-lihat murid murid lain belajar  basket.  Akan  tetapi  dasar anak  anak , jika  ada  minat   selalu memperhatikan dan  belajar  bagaiman orang  lain main  dan  selalu mencuri curi main jika  bolanya  tidak  dipakai.  Maka gurupun  menjadi heran waktu kami  berdua sudah diperkenankan resmi belajar main  basket,  sepertinya kog  ada  bakat alam  karena  sudah pintar memainkan  bola.  Bicara  tentang  basket, saya  jadi teringat  2 teman  saya yaitu Sitjiang  &#8211; sijangkung  yang  tinggi  badanya  180 cm dan Cay-ing.  Cay-ing  adalah  teman  yang dulu pernah  saya  timpuk  dengan   &#8221; batu &#8220;; rupanya  peristiwa lalu sudah  dilupakan.  Sitjiang  adalah teman baru yang  baru pindah  dari kota  lain. Ia  kebetulan pindah  rumah  dimuka  rumah  saya tempat  Abdul dulu tinggal.  Ia  dan  Cay-ing  menjadi  bintang dalam  regu  basket kami selama  di akhir  SD dan  SMP  Tionghoa.  Sitjiang sangat  pintar berceritera,  apa  saja yang  diceritakan menjadi sangat menarik.  Oleh  karena ia  tetangga  dekat saya  dan  karena  ukuran  badanya  sudah dianggap  &#8220;ora ilok &#8220;ngendon di tetangga,  maka  saya  dan Hongyu  yang sering  datang  main kerumahnya. Tempat  kami berkumpul dan  berceritera  adalah  sebuah pohon Cheri yang  cukup besar dinaiki  3 orng.  Sesuai  sifatnya, Hongyu  tidak  tahan  jika  tidak mengikuti permainan yang  bersiat fisik;  maka biasanya  ia  meninggalkan kami entah kemana  dan  hanya  Sitjiang dan  saya yang  masih tahan &#8220;kongkow&#8221;   berjam-jam.\n<\/p>\n<p>Waktu  Belanda  datang,  rumah  disebelah timur  saya  dijadikan semacam kantin  serdadu Belanda,  dimana dibagian samping\/muka ada  fasilitas memutar  film\/bioskop.  Film film yang  diputar kebanyakan film  cowboy atau  film  action lainya.  Anak anak  yang  suka  berkeliaran dekat  kantin, termawuk Sitjiang, Hongyu dan  saya,  tempo2 dibiarkan  ikut  menonton.  Dasar  gerombolan  anak anak,  jika cerita  filmnya  menegangkan  pada   pada  waktu  si Jagoan memburu  gerombolan orang  jahat,  tepuk tangan  dan  teriakanya  sampai mengundang perhatian  petugas tentara ( PM ) yang  mau tidak mau lantas  mengusir  gerombolan  anak anak keluar.  Tentu saja  kami anak merasa  sangat sayang tidak dapat terus  menonton  film yang  sedang tegang ceriteranya, sehingga  beberapa yang  &#8220;badung&#8221;  masih  mencoba  mengintip dari pintu  bahkan  coba menyelinap masuk  lagi. Rupanya tentara  Belanda  yang  dtempatkan  didaerah kata saya  adalah  dari negra bagian Friesland, yang kalau tidak  salah  berada  diujung  utara negeri Belanda. Bahasanya agak  sedikit  berbeda  dari  Bahasa  Belanda yang dipakai disekolah  Belanda  dulu.  Rupanya meski dekat  denga n demarkasi  antara  daerah  pendudukan   Belanda  dan  daerah  kekuasaan Republik Inonesia, mungkin  daerah  kami dianggap  tidak  strategis, sehingga  pertempuran  antara tentara  Belanda dan gerilyawan  Republik Indonesia   jarang  terjadi.  Juga  tidak  terdengar pasukan  Belanda  sweeping  ke desa desa  mencari geriliyawan,  meskipun Jendral besar  Sudirman  dan  banyak  petinggi  tentara  Nasional  berasal  dari daerah kami. Pada   akhir penyerahan  kedaulatan  Negara kembali  ke Indonesia, kehidupan  kota berangsur \u2013angsur   pulih  mendekati  normal,  akibatnya  kegiatan oleh raga  orang dewasa  juga  makin  redup, karena  mereka sehari  hari lebih  bekerja    mencari nafkah .  Akhirnya  kegiatan olah raga  basketpun  praktis  hanya  dilakukan pelajar  sekolah.\n<\/p>\n<p>          Sebelum  keterusan bercerita  sampai  berakhirnya   periode  II  ini ;  sebaiknya saya  sekilas  balik menceriterakan   peristiwa  penting  mengenai perpindahan  sekolah kami.  Hal ini  terjadi   pada  akhir  pendudukan Jepang.   Setelah  Jepang  menyerah, sekolah Jepang\/Tiongha di kota  kami menjadi  Sekolah   Tionghoa .   Sekolah kami  yang  menduduki  gedung bekas sekolah  HZCS   yang  berada di  sebelah  Timur  alun alun harus  pindah karena  gedung  sekolah  akan  digunakan  untuk  keperluan  lain.  Pada  waktu  itu tidak ada  mobil  truck  untuk mengangkut  barang  dan pekerja  buruh  kasar   juga  tidak  ada. Oleh  karena  itu,  perpindahan  bangku  sekolah  dan alat alat  lain  harus  dilakukan secara  mandiri.  Alat  pengangkut  satu-satunya  adalah  gerobak tarik\/dorong,  penarik  utamanya  berdiri diantara  2  tiang  yang   dipasang  horizontal  yang  dihubungkan  dengan  kotak  gerobak  serta   dipasang  tali  dibagian depan  antara kedua tiang untuk disampirkan kepada  pundak penarik.  Orang orang  lain dapat membantu  mendorong  gerobaknya  dari  belakang; sehingga  jelas beban utama  terletak pada pundak penarik gerobak.  Dipelopori oleh  kepala  sekolak pak Ongtjingho  yang  perawakannya  tinggi  besar  sebagai  penarik utama,   gerobak gerobak lain yang  ditarik oleh  sukarelawan  yang  berbadan  tegap  dan  anak anak  sekolah yang  besar besar badanya sebagai  pendorong ;  barisan  gerobak itu membawa  bangku bangku  ke sekolah  baru  yang  letaknya  didaerah \u00b4Mbengang &#8221; di ujung  barat kota.  Jarak antara  sekolah lama  dan sekolah  baru  kira kira  sekitar  1500 \u2013 2000 m.   Bangunan sekolah  baru besifat darurat,  karena  dindingnya  dibuat dari  anyaman  bambu yang  didobel; namun tentunya  masih  tidak  kedap  suara. Seingat  saya  bangunan kelas  juga  tidak dipasang  plafond  dan  dinding  pemisah  antara  2 kelas  hanya  setinggi sekitar 3,50 m.  Saya  masih ingat  anak2 yang  nakal  suka  melempar  keset butut yang  dibuat dari  sabut kelapa  ke kelas  sebelah.   Untungnya  hal ini  dilakukan pada  waktu kelas tidak dihuni,  jika  tidak,  tawuran antar  kelas pasti  akan terjadi.   Letak  sekolah  persis di sebelah  sawah,  sehingga beberapa  murid suka berjalan jalan  dipematang  sawah pada  waktu jam  istirahat. Dasar  anak anak,  makin lama mereka  berjalan makin  jauh,  sehingga  setelah jam  istirahat habis,  mereka  masih  belum masuk kesekolah.   Akibatnya  ya  tahu  sendiri.\n<\/p>\n<p>             Peristiwa  perpindahan  sekolah  dan  sikap pak Ong yang  berasal  dari daerah lain  ( Magelang )  tetapi  mau mati-matian  berjuang untuk sekolah  mendapat  apresiasi  dari penduduk  kota  kami.  Rupanya  pak  Ong  memang orang  yang  suka  konsekuen mengabdi  pada  tugasnya  dan  ia  orang  yang  multi  talenta.  Selain  sebagai guru  kepala sekolah  yang gemar  berolah  raga,  ia  juga  meluangkan waktu  memberi  les  berbagai ketrampilan pada pemuda pemudi Tionghoa yang karena  umurnya sudah  tidak bersekolah  formal  lagi.   Ia  memberikan les  Bahasa Inggris  dan tata  buku pada  sore hari dan  setelah Belanda  datang,   ia juga member i les  bahasa  Belanda  agar  anak anak  bisa  meneruskan  sekolah dikota  lain.  Sebagai  olah ragawan, selain pemain  basket,  Ia juga  mengumpulkan  murid murid untuk  dilatih main tinju.  Sarung  tanganya ia  buat  sendiri  dari  berlapis- lapis kain  yang diisi kapuk padat.  Semua  murid  lelaki boleh  ikut,  syaratnya  adalah  surat  persetujuan  dari  orang tua  murid.   Sparring  partner  dalam latihan tentu  dipilih yang  kira kira badanya  seimbang. Oleh  karena  rumah dan  tempat  latihan  hanya  terpisah beberapa rumah  dari rumah  saya,  maka  saya dan Hongyu suka  ikut  melihat-lihat.  Setelah  banyak  anak sebaya yang ikut, saya  dan Hongyu juga  ikut  mendaftar.  Waktu itu juga  sudah  ada beberapa asisten yang  ikut  melatih, saya  dan Honyu dilatih oleh  Tiongtji.  Pak Ong hanya  sering ikut melihat saja. Tentu kami  dilatih  agar lebih  tabah  dan berani kena pukul  dan harus tetap  sportif tidak boleh terlalu  emosionil.  Oleh  karena  badan kami bedua relatif   kecil,  maka kami mengandalkan kelincahan dan  kecepatan kami , sehingga  jarang kena  pukul. Jika  ada yang terlalu emosionil, maka  disuruh  berhenti berlatih. Berbicara  tentang  olahraga,  waktu  itu  regu  basket  kota  kami sangat  disegani oleh  regu  kota kota  lain  disekitar daerah  Banyumas.  Regu  basket  kota  kami intinya  terdiri  dari pak Ong, Hengki dan Koktiu  bersaudara, Yehcing yang juga  guru sekolah  kami dan Kimhong orang  local. Tinggi  badan  mereka rata rata  diatas 175 cm dan  badanya  sangat kekar.\n<\/p>\n<p>            Setelah membahas  kondisi  fisik  sekolah baru,  baiklah kita  menengok  kembali  sejenak bagaimana  perkembangan kondisi  murid murid  sekolah.  Kebiasaan saling  adu  jotos  pada  sekolah HCZS rupanya  mulai  ditinggalkan pada  pendudukan  Jepang  dan  setelah Jepang  menyerah,  praktis  kebiasaan  tersebut  sudah tidak  ada  lagi. Pada  waktu  sekolah HCZS dulu, entah  mengapa  anak murid laki laki suka  adu  jotos\/berkelahi.  Caranya  ada  aturan  tertentu  dan selalu perkelahian\/adu jotos  tersebut dilakukan   satu  lawan  satu.  Perkelahian  itu  biasanya  dilakukan  di-alun alun yang memang tidak  jauh  dari  sekolah.  Kelihatanya  masing masing jagoan  punya pengikut  dan  pendukung, tetapi  perkelahian tidak pernah  menjadi  tawuran antar kelompok.  Penyebab perkelahiahian   mungkin  juga  hal  yang  sepele,  biasanya  yang  satu  mengatakan  tidak  takut  berkelahi dengan si-anu, maka diaturlah perkelahian  antara   kedua  jago berkelahi tersebut.  Meskipu berupa  free fight,  artinya  boleh meninju, boleh menendang dan  boleh membanting,  namun  sebelum  berkelahi , sepatu  harus  dibuka  dan  disimpan  dulu. Benda  keras  yang  dipakai  di jari jari  atau  ditangan  juga harus  dilepas.  Meskipun  boleh  menendang,  menendang daerah kemaluan tidak dibenarkan.  Perkelahian  biasanya  berlangsung tidak terlalu  lama,  jika kelihatan jagonya  sudah kewalahan, pendukungnya  cepat cepat  memisahkan perkelahian  dan  perkelahianpun bubar. Perkelahian  hampir terjadi  setiap hari,  meskipun orangnya  berbeda beda.  Tempo tempo  juga  dilakukan   &#8221; repeat fight &#8221;  yang bermula  dari  saling menantang.  Seingat saya, praktis tidak pernah terjadi  cedera  yang berat.  Pada  jaman  Jepang perkelahian  di-alun alun berhenti   sama  sekali, masih  terjadi secara mencuri-curi  dihalaman sekolah;  sebab  tentara  Jepang akan  menghukum  pihak yang  dianggap salah dengan  sangat  sadis. Lama  kelamaan  kebiasaan  ini  hilang  dengn sendirinya.  Yang  saya  heran,  umumnya  setelah  dewasa, para  jagoan berkelahi   ini  sikapnya  menjadi toleran dan baik sekali;  sama  sekali tidak tersisa  tanda  kenakalan  atau  kecongkakan setelah mereka menjadi dewasa.\n<\/p>\n<p>           Setelah Jepang tekuk lutut pada  sekutu,  disintegrasi  antara golongan murid  Tionghoa babah dan  Tionghoa totok lebih jelas lagi,  Hal ini  disebabkan kebanyakan  murid  golongan  babah berusaha  kembali  kesekolah Belanda. tetapi  tidak pernah terjadi perkelahian masal  ataupun penindasan  antar kelompok.  Apalagi  setelah pendudukan politieke actie  kedua  ,  para murid golongan  babah umumnya  sudah  mulai  berorientasi  ingin  masuk kesekolah Belanda  lagi,  sehingga  mereka  hijrah  kekota kota  besar  seperti Jakarta dan Bandung.  Memang  sekolah Tionghoa  dikota  kami sudah  tidak  dapat  menampung  murid  murid pada  kelas tinggi, karena  belum ada  kelas SMP.  Satu per satu murid murid tersebut  dikirim sekolah keluar kota.  Mungkin  karena proses  mengirim  anak  sekolah keluar kota  cukup mahal untuk ukuran zaman itu,  mereka yang keluarganya kurang  mampu  umumnya  berhenti  sekolah.  Keluarga  kami  sampai  tahun 1948 sudah mengirimkan   3 kakak  saya   keluar kota.   Saya  sendiri  termasuk yang tertinggal dalam kota, mungkin karena  terlalu berat untuk mengirimkan dan membiayai  lebih  dari 3 anak sekolah diluar kota  sekaligus;  maka  orang  tua  saya  tidak langsung mengirim saya  sekolah diluar  kota.\n<\/p>\n<p>              Dengan  perginya  teman  sekolah  sebaya  saya dan  yang lebih  tua  keluar kota,  maka  pada  waktu itu saya terpaksa  tidak  naik kelas, karena kelas  saya  tidak bisa  dibuka karena tidak ada  muridnya.  Hal ini  terjadi pada  waktu  saya  dari kelas SMP II seharusnya naik kekelas SMP III  pada pertengahan tahun 1948. Sebenarnya  perpindahan  murid murid  untuk sekolah  diluar  kota sudah terjadi mulai sekita  2 tahun  sebelumnya.  Waktu  itu disekolah  Tionghoa  di-organisir himpunan  siswa, yang dianjurkan  belajar  berorganisasi, mengadakan Koran  dinding dan  mengorganisir pertandingan olah raga  dan lain lain.  Entah ditunjuk  atau dipilih, maka  tugas  mengurus  himpunan  siswa jatuh kepundak  saya.  Selain  saya  sebagai ketua,  ada  wakil yang namanya  Ambing dan Yanswan, mereka  berdua lebih besar dari  saya,  tetapi tetap mau jadi pengurus bersama  saya. Tentu teman baik saya Hongyu  juga  masuk dalam jajaran pengurus dan sekretarisnya  bernama  Sengho , orangnya  pendiam tetapi rajin sekali.   Pada waktu ada 2 guru pria  yang  sangat dekat dengan murid murid, namanya  Cenminchang dan Yaphongging.  Mereka  berdua masih  bujangan  dan  memang umurnya juga  baru sedikit lebih dari  20 tahun kala itu.  Meskipun badanya  tidak terlampau besar\/kekar;  tetapi mereka  pandai olah raga  apa saja  seperti  basket dan  badminton, tetapi dapat mengajar dengan baik dan  menyanyi , main  sandiwara dan  sebagainya.  Sebagai pengurus  himpunan siswa, kami  hampir  saban hari galang  gulung dengan  mereka  berdua ditempat indekosnya.  Main  basket  biasanya juga dengan mereka,  tetapi tidak ada  kegiatan les.\n<\/p>\n<p>               Oleh  karena ada  keinginan untuk  sekolah diluar  kota,  saya  juga  mencoba  belajar  sendiri  agar tidak ketinggalan pelajaranya  dikemudian hari  jika  menyusul  teman  sekelas yang pergi keluar kota terlebih  dahulu. Saya  harus  mengaku  bahwa belajar sendiri  ternyata  tidak  mudah jika  tidak berdisiplin keras.  Banyak sekali  target  yang  tidak dapat  saya penuhi.  Antara  teman  sebaya  yang pergi keluar kota, ada  seorang  sepupu, nanamya  Ciyong ( lelaki ) juga merupakan teman baik. Sebelumnya kami berdua disuruh belajar bahasa Inggris pada  bapaknya yang pernah sekolah di Singapore dan pernah jadi guru.  Oleh  karena  jadwal belajarnya sore  hari  sekitar  jam 2 siang, sering juga  bapaknya berhalangan.  Terus  terang kami juga cepat bosan, karena  yang diajarkan difokuskan pada  gramatika.  Maka  jika  ada  kesempatan  dan alasan,  kami  berdua lebih  senang pergi  mancing   ikan disungai sungai kecil dekat  rumah Ciyong  yang  berbatasan dengan sawah dan desa. Waktu itu masih banyak ikan kecil disungai, sehingga  kami  selalu mendapat  beberapa ekor  ikan. Rencananya  sih ikan ikan maunya  dipeilhara,  akan tetapi jarang yang bisa bertahan hidup agak  lama.  Akan  tetapi, untuk semua pemancing, paling nikmat adalah ketika pancingnya dapat menangkap ikan. Ciyong orangnya  pendiam dan tidak terlalu suka  bergaul,  tetapi  ia  cukup pandai  olah  raga pingpong dan kemidian hari main tenisnya  juga  bagus. Nilai sekolahnya  juga termasuk baik, ia  lulus SMA pada  tahun yang sama dengan saya ( 1952 \u2013 saya sekolah Tionghoa dan dia AMS ) dan kemudian menjadi dokter.\n<\/p>\n<p>            Menjadi ketua  himpunan siswa menambah wawasan hidup saya,  karena  harus ikut  memikirkan hal hal yang tidak langsung berkaitan dengan diri sendiri.  Ikut  memikirkan nasib sekolah yang kiranya  tidak  bisa terus  hidup,  memikirkan mereka yang tidak mampu meneruskan sekolah keluar kota dan  tetek bengek kenakalan anak anak, karena  baik  guru guru  maupun  pengurus  sekolah   suka  mengikut serta pimpinan himpunan  siswa dalam  hal hal demikian. Saya  tidak ingat berapa  lama saya  menjabat  ketua himpunan siswa yang seharusnya diganti setiap tahun sekali, namun  sepertinya  jika  tidak saya  keburu sekolah diluar kota, tugas tersebut tetap diserahkan pada  saya.  Soalnya  kelompok pngurus  siswa  lainya kelihatanya sangat mendukung  saya.  Ada  Ambing yang menjadi  wakil ketua, yang  umurnya dan kepandaian Bahasa Tionghoanya jauh diatas  saya. Ada  Sengho yang pendiam , tetapi sangat rajin dan  rapi kerjanya sebagai penulis,  ada  Yanswan,  yang  badanya kekar dan  besar,  tetapi  rupanya  senang  diperintah-perintah  dan  tentunya  ada Hongyu. Kebanyakan  murid murid perempuan memanggil  saya  dengan  panggilan TSUSHI &#8211;  artinya  ketua,  mungkin karena  sukar  memanggil   nama teman laki yang lebih  tua.\n<\/p>\n<p>           Mugkin ada satu hal lagi yang perlu  disinggung, yaitu kenapa saya  belakangan kog   bisa berteman  baik  dengan  Cay-ing.  Peristiwa  saya dengan Cay-ing  pada  dasarnya  karena ia kebablasan menggoda  tidak melihat  situasi dan kondisi; sehingga yang digoda  jadi mata  gelap. Ia  belakangan menyadari dan meminta maaf dan saya juga berjanji dalam  diri  saya  agar lebih dapat mengendalikan emosi,  karena  tindakan emosional dapat berakibat  fatal.  Saya  mungkin sifatnya agak pendendam;  seperti  akan saya  ceritakan tentang teman lain yang bernama  Si Ia  sekitar 2 tahun lebih tua dari  saya dan badanya tentu lebih  besar.  Entah  bagaimana  kami duduk satu bangku.  Saya  setiap  hari  merasa  seperti digoda dan  diteror olehnya.  Sifatnya  sangat licik, karena ia menggangu saya jika  tidak dilihat orang  lain;  dan  rupanya ia  benar benar  menikmati ketidak  mampuan saya  membela  diri ( ini  terjadi sebelum peristiwa  Cay-ing ). Entah mengapa  ia  sempat  pindah keluar  kota dan  lucunya 2 tahun  setelah ia kembali, badan kami sudah hampir sama  besar.  Karena saya yakin  ia memang  menjahati  saya dan perlakuanya  bukan  sekedar  kenakalan  anak anak, maka pada kesempatan ia ketemu lagi, beberap kali   saya tantang ia  berkelahi.  Lucunya meskipun badanya  masih lebih  besar dari saya, ternyata  ia  tidak berani  berkelahi dan mencoba selalu menghindar dari  saya. Tiap  ada  kesempatan, selalu ia  saya  dekati.  Saya  tidak pernah memukul dia,  tetapi rupanya  secara psikis ia  tertekan sekali  karena  selalu  dicari dan didekati   saya  dengan  tingkah tidak bersahabat.  Saya  tidak  tahu kapan saya berhenti berbuat demikian,  tetapi  rupanya  ia  pindah kelur kota dan tidak pernah  bertemu saya lagi. Nah  dengan  ceritera ini,  saya akhiri kisah  teman teman periode II.\n<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<\/div>\n<div style=\"font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PERIODE II \u00a0 Oleh: SPL \u00a0 Seperti yang telah dijelaskan dalan tulisan Teman Baik Periode I, periode I meliputi periode sampai proklamasi kemerdekaan yaitu sampai tahun 1945. Oleh karena itu, periode II meliputi periode akhir 1945 sampai penyerahan kedaulatan oleh &hellip; <a href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=885\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[45],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/885"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=885"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/885\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":889,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/885\/revisions\/889"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=885"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=885"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=885"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}