{"id":892,"date":"2014-05-03T03:59:08","date_gmt":"2014-05-03T03:59:08","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=892"},"modified":"2014-05-03T04:04:36","modified_gmt":"2014-05-03T04:04:36","slug":"t-em-a-n-t-e-m-a-n-b-a-i-k","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=892","title":{"rendered":"T EM A N   T E M A N   B A I K"},"content":{"rendered":"<a class=\"wpptopdf\" target=\"_blank\" rel=\"noindex,nofollow\" href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=892&format=pdf\" title=\"Download PDF\"><img decoding=\"async\" alt=\"Download PDF\" src=\"http:\/\/blog.situsteknik.com\/wp-content\/plugins\/wp-post-to-pdf\/asset\/images\/pdf.png\"><\/a>\n<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http:\/\/quicksense.net\/ -->\n<div style=\"float:none;margin:10px 0 10px 0;text-align:center;\">\n<script type=\"text\/javascript\"><!--\r\ngoogle_ad_client = \"ca-pub-1978955812064543\";\r\n\/* situsteknik_728x90 *\/\r\ngoogle_ad_slot = \"8726851317\";\r\ngoogle_ad_width = 728;\r\ngoogle_ad_height = 90;\r\n\/\/-->\r\n<\/script>\r\n<script type=\"text\/javascript\"\r\nsrc=\"http:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/show_ads.js\">\r\n<\/script>\n<\/div>\n<div class=\"pf-content\"><p>P E R I O D E    III\n<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>Oleh :   SPL.\n<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>             Mungkin ceritera periode III ini  baik dimulai dari udar rasa saya pada teman istimewa saya Hongyu yang praktis berpisah mulai dari periode II kehidupan saya :\n<\/p>\n<p><em>         &#8221; Enam puluh tahun lebih kita telah berpisah,  masing masing memilih jalan hidupnya  sendiri.<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\"><em>            Tiada tangis dan tidak ada kepedihan perpisahan,  seakan hal ini  sudah digariskan sang  ILAHI.<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\"><em>            Aku memilih mimpi  dijalan menara gading,  menuju ilusi  yang tidak terbayangkan.<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\"><em>            Engkau memilih  memasuki kehidupan dunia nyata,  sebagaimana orang lelaki yang berangkat  dewasa.<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\"><em>            Selama ini  tidak ada komunikasi ataupun usaha berhubung,  karena perjumpaan  insan dari dunia berbeda,<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\"><em>            dapat  menghapus jejak kebersamaan  indah  yang telah terpateri.<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\"><em>            Bayangkan aku hanya dapat menyapa : &#8221; Apa kabar teman ??&#8221;  Dan kamu menjawab : &#8221; Apa kamu sudah makan, kawan ?? &#8221;<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\"><em>            Kemudian bisu seribu Bahasa,  karena tidak dapat menyambung cerita dua dunia yang berbeda. &#8221;<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\">\n\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">             Periode  III  dimulai  dari  saat  saya pergi  ke  Tegal  untuk  bersekolah  Tionghoa  dengan  membawa  adik  perempuan  dan  sepupu   sepupu yang lebih  muda dengan  konvoi  militer  Belanda  dari Purwokerto ke  Tegal.   Waktu itu (  kira  kira pertengahan  tahun 1949 ), perjalanan  darat dari Puwokerto ke Tegal dianggap kurang  aman,  sehingga  hanya  bisa  dilakukan dengan  menumpang   konvoi  truck  tentara  Belanda.  Oleh  karena  konvoi berangkat  pagi pagi  sekali, maka kami harus  menginap dirumah famili di  Purwokerto.  Saya  lupa dimana kami  diturunkan dari konvoi  sesampainya  di kota  Tegal, namun kami semua tiba dengan tidak kurang suatu apa  dirumah  kos  kami.<br \/>\n<!--more-->\n<\/p>\n<p>             Untuk  dapat  masuk  ke  kelas  SMA ( Kaochung ) kelas 1  yang baru  dibuka  di Tegal,  saya  harus  melalui ujian saringan.  Ujian saringan ini  berlaku untuk  semua  murid  baru dari luar kota, yang  jumlahnya lebih  dari  10 orang,  baik  yang  mempunyai ijazah  SMP ( Chuchung ) kelas 3 atau yang  belum  lulus SMP  seperti   saya.  Saya tidak  jelas  mengapa  sekolah Tionghoa  di Tegal terkenal  dan dianggap bagus, belakangan  baru tahu  bahwa   murid murid dari  luar  kota  termasuk  dari  kota Gombong, Kebumen,  Cilacap, Purbalingga, Purworedjo,   Temanggung,  Magelang , Muntilan, Rembang,  Jepara  Semarang,  Pekalongan,  Pemalang, Slawi  dan  Brebes.\n<\/p>\n<p>                Saya  sempat merasa  minder  dan grogi waktu berdiri dalam  barisan yang ingin ujian  masuk di SMA,  karena  rekan  rekan sya  sepertinya  lebih besar dari  saya, apalagi  saya memang  tidak berbekal ijazah   SMP.  Entah untung  atau memang memenuhi kualifikasi  atau  karena semua yang ikut ujian  masuk diluluskan, akhirnya  saya  diterima  juga  dikelas 1 SMA.\n<\/p>\n<p>Hari pertama  masuk sekolah masih  sangat terkesan untuk  saya  dan  mungkin untuk guru  kepala. Yang  mengajar adalah guru kepala  sendiri;  setelah  sedikit  ia  bercerita  mengenai  matematika\/ilmu ukur,  ternyata  ia  mengadakan  semacam  test untuk  menyelesaikan satu  atau  dua  soal ilmu ukur.  Ia  membagikan kertas  ujian dan  setelah memberi  instruksi bagaimana  menuliskan nama  dsb, ia  mengatakan siapa  yang  bisa  menyelesaikan soalnya,  harus  meletakkan  kertas ujian  dibagian depan bangku duduknya.  Kebetulan  soal  diberikan masih  termasuk soal ilmu  ukur SMP   kelas 2;  sehingga  saya  dapat  menyelesaikan  dengan  sangat  cepat. Oleh  karena  sebagai murid yang  badanya  paling kecil,  saya  duduk dibangku paling  depan,  sehingga kertas  ujian yang saya  taruh  dibagian muka bangku dapat dilihat oleh  murid murid yang duduk dibelakang.  Setelah saya taruh  kertas ujian dibagian  muka bangku,  guru  pura pura tidak  memperhatikan,  rupanya ia  kuatir  saya  &#8221; give up &#8221; tidak dapat menyelesaikan  soal  yang diberikan dan tidak tega untuk langsung menanyakan karena mungkin terlalu cepat mengerjakannya. Kemudian setelah  saya  hanya  duduk tenang tenang  menunggu, ia  menghampiri  saya dan dengan pelahan ia  bertanya  apa  ada  masalah ?  Waktu saya  menjawab tidak  ada  masalah,  ia  menanyakan lagi apa  saya  sudah  selesai mengerjakan soal dan   saya   tentu bilang menurut saya  sudah.  Baru ia  manggut manggut dan  mengambil kertas ujian saya untuk diperiksa. Tentunya  tanya  jawab ini  mengundang  perhatian  dan diketahui  teman teman kelas  yang lain.\n<\/p>\n<p>               Rupanya   guru  kepala  sudah  sempat  memeriksa  pekerjaan  saya dan  setelah mengumpulkan kertas  pekerjaan  dan  teman sekelas lain, ia  sempat mengatakan  saya  telah mengerjakan soal dengan benar. Ia menanyakkan  saya  asal  dari  mana; ketika  saya mengatakan dari  Purbolinggo, ia kembali manggut  manggut tanpa  komentar.  Mungkin perlu  dijelaskan  disini,  bahwa  kira kira  2 tahun  sebelumnya, ada  4  siswa  dari Purbolinggo;   yaitu Swiyan, Yunge,  Honggun dan Yanki, masuk sekolah  di Tegal.  Rupanya  reputasi  mereka  sebagai  murid murid yang pintar\/top dikelas cukup  dikenal antara  sesama  murid maupun  oleh  guru guru. Kemudian setahun  sebelum saya,  Yanoan dan Yanbeng  kakak beradik dari Purbolinggo, juga  sekolah ke  Tegal dan Yanbeng  rupanya  menduduki rangking teratas  dikelasnya. Angkatan  pertama  dari  Purbolinggo satu dan satu setengah  tahun  sebelum saya ke Tegal pindah kesekolah Belanda yang mengadakan sistim &#8221; herstel &#8221; , kecuali Honggun.   Jadi  waktu saya  dan  adik adik kelas dari  Purbolinggo datang  sekolah  ke Tegal,  memang  sepertinya sudah  digelar semacam &#8221; karpet  merah &#8221; untuk  murid murid dari Purbolinggo.  Oleh  karena  itu, generasi saya mendapatkan  semacam  &#8221; kind and warm  welcome&#8221;  dari guru2  dan  murid2  sekolah Tionghoa  Tegal.\n<\/p>\n<p>            Terus  terang saya malah  tidak memperlihatkan  prestasi belajar yang   bagus, saya  lebih  aktif dimana-mana selain bidang studi  dan   ikut hampir semua  kegiatan olah raga, ikut aktif  diperhimpunan  siswa maupun kegiatan ekstra kurikuler lainya.  Dibidang  basket,  jika di Purbolinggo saya  sangat mudah menggiring bola  sampai dibawah ring basket untuk   memasukkan  bolanya (  karena lebih gesit dari  pemain yang  badanya praktis  sama besar );  tetapi di Tegal dengan pemain yang rata rata jauh lebih tinggi besar  badanya, saya  jadi mati kutu. Celakanya  sangat payah jika  harus shooting jarak jauh &#8212; belakangan baru ketahuan satu mata saya tidak bekerja\/lazy-eyed, sehingga tidak mempunyai &#8220;sense of  distant\/depth&#8221;. Sebagai tim satu kelas,  saya hanya  lebih  banyak  duduk dibangku cadangan. Tentang  sepak bola  masih termasuk kategori pemain top, gara gara pada  waktu pertandingan sepak bola  sekolah Tionghoa dengan SMA negeri  ( tanpa  pakai sepatu ), saya  beruntung mencetak goal tunggal,  sehingga  kita keluar sebagai pemenang. Mengenai badminton,   di Tegal , ternyata  jago kampung masih jauh  dibawah teknik bermain dan tinggi badan teman  pemain lain, untung masih dianggap sebagai sparring partner dikala latihan.  Tentang pingpong, pegang raket saja  hampir tidak berani, kecuali hanya  menemani cewek cewek belajar pingpong. Atletik sih ikut ikut saja, karena tidak pernah latihan dan hanya  ikut jika  ada pertandingan saja. Saya pernah termasuk anggota  tim estafette sekolah pada waktu perlombaan estafet  lari  umum. Ada tim tentara Belanda dan tim 2 lain, termasuk tim sekolah   Tionghoa.  Jarak total perlombaan lari kalau tidak salah 5 km dan tiap  orang harus  lari 500 meter.  Saya  ketika  itu  benar benar demam panggung, ketika lari  rasanya  menjadi sangat capai dan  beberapa kali disusul pelari dibelakangnya.  Namun pada  kesempatan  lain, saya sempat jadi juara loncat jauh disekolah. Oleh karena praktis  mengikuti sema  jenis  kegiatan olah raga,  maka  teman2 juga  berganti ganti.   Yang rutin berlatih badminton ada Kingking dengan adiknya Kimhin ( asli Tegal ), ada Liangtin ( cowok \u2013asal Muntilan ) dan ada Guntong dan Gunhwi yang asal Temanggung.   Dalam sepak bola  ada Liangtsai  yang satu kelas, Hiantay yang satu kelas dibawah dan  lainya lupa  sama sekali. Basket lebih bersama teman eselon II yang  badannya hampir  sama, yiatu Hiantay, Swikiam, Na-y  dan  Samyu.  Waktu  duduk dikelas  akhir saya juga  sempat belajar main tenis;  meskipun latihanya  rutin tiap minggu, tetapi siapa saja teman mainya sudah tidak ingat lagi.\n<\/p>\n<p>               Kegiatan olah raga  yang dilakukan sekaligus  parawisata. Yang saya sangat senang mengikuti  adalah  jika  kami melakukan pertandingan pertandingan olah raga diluar  kota  sambil melihat lihat tempat tempat parawisata yang ada pada tiap tempat\/kota  yang dikunjungi.  Rombongan kami  biasanya terdiri dari regu basket pria dan wanita; regu pinpong pria dan wanita dan regu sepak bola.  Jika  kota  yang kami kunjungi relative lebih necil dari kota Tegal, umumnya regu basket dan regu pinpong kami selalu memenangi pertandingan. Tentu jika kota yang dikunjungi adalah Semarang,  biasanya pertandingan menjadi sangat menarik karena umumnya sama kuat.  Akan tetapi, kesebelasan sepak bola  biasanya kalah, karema kami harus  bertanding dengan kesebelasan orang dewasa  karena  umunya  dikota kota tersebut tidak ada regu sepakbola  siswa  sekolah.  Entah mengapa,  badminton hampir tidak pernah dipertandingkan, padahal regu badminton sekolah Tegal sangat kuat.\n<\/p>\n<p>               Selama  tiga  tahun saya indekos di satu tempat dijalan Pecinan,  yang letaknya tidak jauh dari sekolah.  Oleh karena itu umumnya   kita jalan kaki kesekolah dan tidak semua anak kos mempunyai sepeda. Rumah kos berbentuk seperti huruf L dan   karena  letaknya praktis  dipojok, maka ada 2 pintu masuk, dari toko dan dari jalan samping.  Bangunan rumah dibagian jalan Pecinan merupakan bangunan  2  tingkat, lantai kedua terletak diatas toko yang  cukup  luas  dijadikan tempat kos  anak  lelaki. Satu sisi berisi deretan sekitar 8 buah tempat tidur, bagian lain  masih ada 2 tempat tidur dan sisanya  merupakan tempat umum. Lantai tingkat terbuat dari konstruksi  kayu, sehingga jika terlalu ribut main diatas, terdengar jelas  pula dari toko. Rupanya  saya  penghuni paling lama, ada 2 teman yang bersama tinggal 2 tahun, yaitu Yanbeng dan Jingswan. Yanbeng asal satu kota dengan saya dan merupakan anak paling pintar dikelas. Fisikya kurang kuat, sehingga praktis dia tidak pernah ikut olah raga. Jingswan asal Muntilan dan rupanya berasal dari keluarga yang berbahasa Belanda dirumahnya. Ia pandai main biola dan suara nyanyianya juga bagus. Ia  juga  tidak terlalu suka olah raga dan entah bagaimana  cukup cocok dengan saya sehingga teman baiknya;  yaitu Jingtong juga jadi teman baik saya, meskipun mereka berbeda satu kelas dibawah saya. Jingswan pulang dan sekolah di RRT, lucunya setelah 45 tahun lebih bertemu di Jakarta, Bahasa Indonesianya  jadi &#8220;PELO &#8220;, persis seperti orang Tionghoa totok yang baru datang ke Indonesia. Setelah lulus, ia bekerja dibidang perminyakan  dan menikah dengan orang dari Harbin ; selama  40 tahun praktis tidak pernah ketemu orang dari Indonesia. Ada lagi Na-y dan Yangwan yang asalnya juga dari daerah saya. Kelas mereka kalau tidak salah 2 kelas dibawah saya, tetapi keduanya teman olah raga  basket saya juga.  Ada lagi Kianwi dan Hoke yang sekelas denga Yangwan dan Na-y.  KIanwi  orangnya  sangat pelupa, sehingga  selalu kita goda goda;  tetapi anehnya ia malah sekolah dan lulus jadi dokter. Kami anak anak kos setelah makan malam, senangnya jalan jalan sampai alun alun, perlunya cuma beli kacang goreng ( mungkin juga sambil mejeng, karena siswa dari luar kota biasanya dihargai  masyarakat Tegal ) masing  masing satu bungkus yang habis dimakan dijalan.  Ditempat kos  juga  ada kos untuk anak perempuan, rupanya mereka dikumpulkan dalam satu kamar yang agak besar sehingga muat 3 ranjang dan tempat meja belajar dilantai bawah dekat kamar makan.\n<\/p>\n<p>             Sebenarnya kondisi sekolah Tionghoa Tegal waktu itu juga  sedang kritis, terutama karena banyak muridnya yang pindah kesekolah Belanda dan  guru guru SMA tidak mencukupi.  Sebagai contoh, kelas 2 yang baru berjalan \u00bd tahun terpaksa ditutup karena jumlah  muridnya  tidak cukup. Selain itu, mungkin juga ada faktor lain yang berbau politis. Sebagaimana diketahui, pada tahun  1949 , pemerintah Kuomintang terusir dari daratan Tiongkok dan meneruskan Republik Tiongkok di Taiwan dengan Taipei sebagai ibu kotanya. Mao Tse Tung mendirikan Republik Rakyat Tiongkok dengan Beijing sebagai ibu kotanya.  Jadi sekarang ada 2 Tiongkok dan keadaan ini tentu mempengaruhi sekolah Tionghoa, karena mau tak mau harus memilih akan berkiblat kemana. Kondisi ini sebenarnya semula tidak dirasakan oleh murid murid dan sebagian guru guru.  Ketegangan timbul karena  Ketua pengurus sekolah mendadak memecat seorang guru SMP; dan tindakan ini rupanya tidak dikoordinasikan  dengan kepala sekolah maupun dewan guru. Ada  solidaritas dari sebaagian guru yang ingin menanyakan apa alasan pemecatan itu; namun kelihatanya badan pengurus terlalu memperlihatkan sifat otoriternya dan tidak berusaha menenangkan kegelisahan sebagian guru guru dan murid murid akibat tindakan tersebut. Puncak ketegangan tercetus oleh alasan yang sepele, yaitu karena salah satu murid dipukul dengan raket tenis oleh Ketua Badan Pengurus. Peristiwaya sendiri terjadinya tidak jelas, apakah si murid itu menyerempat Ketua Pengurus atau mobilnya ketika para pengurus  main tenis disekolah.  Yang menjadi pahlawan golongan progresif tersebut kalau tidak salah adalah Swikiam.  Bagi yang mengenal cukup baik Swikiam, hal ini agak mengherankan; karena kami umumnya mengenal ia memang senang guyonan nakal nakal, tetapi  &#8221; passionnya &#8221; hanya olah raga..  Memang body languagenya termasuk apa yang dalam bahasa Jawa  disebut  gemalang gemeleng &#8221; kaya orang sombong &#8220;, sehingga kemungkinan waktu percakapan\/cekcok  kata kata menyebabkan ia dipukul, padahal sebenarnya ia anak  biasa biasa saja sifatnya.  Kejadian ini menyebabkan murid murid mengadakan demonstrasi keliling kota untuk memprotes perlakukuan Badan Pengurus Sekolah. Oleh karena Honggun adalah salah satu tokoh mahasiswa pembangkang, maka saya ikut ikut saja. Kami sempat mengatur barisan yang cukup banyak murid yang ikut ( mungkin  mendekati seratus orang ) dan beberapa teman sudah mengantongi batu batu katanya untuk membela diri kalau diserang ( oleh siapa ? ).  Barisan ini sempat keluar sekolah sambil meneriakkan yell yell, tetapi kepala polisi yang mengawal dengan sepeda motor cukup pintar menangani hal ini, tidak berapa lama, barisan dibelokan lagi masuk sekolah, jadi tidak sampai ke jalan jalan besar dikota  yang dapat menghebohkan.  Setelah sampai disekolah, dengan damai barisan dapat dibubarkan, seolah olah maksud barisan untuk demonstrasi sudah tercapai dan tidak ada tokoh murid yang saat itu ditahan. Namun kejadian ini menyebabkan sekolah diliburkan untuk waktu yang tak tertentu.  Murid murid golongan progresif mengorganisir semacam &#8221; self study &#8220;, sehingga  murid murid ini mencoba mengadakan semacam pembelajaran dengan salah satu murid yang ditugasi menjadi semacam guru pelajaran. Dikelas  saya, murid lelaki yang ikut kegitan ini  cuma  sedikit, tetapi hampir semua murid murid perempuan ikut.  Golongan yang non-progresif tidak melakukan kegiatan  semacam ini, namun mereka cuma  bergerombol  kumpul ditempat tertentu.  Untung keadaan ini tidak berjalan sampai 1 bulan, tidak lama kemudian  sekolah dibuka lagi dan se-akan akan peristiwa ini tidak pernah dibicarakan lagi.  Rupanya tokoh tokoh mahaiswa dikelas Honggun setengah dipaksa pindah kesekolah lain, karena kelas mereka resmi ditutup.  Badan  Pengurus  Sekolah juga  se-akan akan tidak lagi mencampuri urusan guru guru sekolah, karena tidak ada yang khusus dipecat. Mungkin ada sebagian yang diblack list  kontrak kerjanya tidak diperpanjang, tetapi hanya  guru kepala dan dewan guru yang tahu persis persoalanya.  Akibat peristiwa ini ada sebagian murid dari luar kota yang pindah sekolah juga, sehingga pada  waktu saya duduk dikelas 2 SMA,  muridnya tinggal  kira kira tinggal 20 orang lebih. Pada waktu duduk dikelas 3, murinya tinggal 7 orang; yaitu Guntong, Gunhui, Liangtsai, Wichai dan saya berlima murid laki laki  serta  Hin  dan Layhwa 2 murid perempuan. Ketujuh murid ini kompak sekali dan prestasi sekolahnya juga diatas rata rata  dari kelas lain   ( mungkin semua angka rapornya rata rata 7 lebih dan Guntong yang tertinggi )) . YANG AGAK UNIK Guntong dan Gunhui yang dulunya condong kearah kelompok non-progresif malah yang  pertama-tama  meneruskan sekolah  ke RRT. Hin menjadi ibu rumah tangga  sedang Layhwa, Liangtsai, Wichai dan saya meneruskan sekolah di ITB;  tetapi kemudian Liangtsai menyusul ke RRT dan Wichai pindah ke Surabaya untuk sekolah dan menjadi dokter.  Ketujuh murid kelas kami rasanya  sangat kompak dan dekat satu sama lainya; rasa  sepenangung sependeritaan sangat tertanam di masing masing.  Meskipun  demikian, kami juga  tidak menangisi perisahan yang tidak dapat di-elakan karena masing masing harus  memilih jalan  dan masa depan yang berbeda.\n<\/p>\n<p>           Seperti yang pernah saya utarakan dimuka, saya juga  aktif dalam kegiatan himpunan siswa. Saya  hampir selalu ikut   rombongan siswa, jika  kami harus  meminta  sumbangan sumbangan dari masyarakat untuk sekolah. Saya  juga giat mengikuti diskusi sikap apa yang harus kita pilih dalam persoalan kewarganegaraan, melepaskan kewarganegaraan RRT  atau tetap memegang kewarganegaraan RRT  dan  lain lain topic yang dianggap relevan. Seingat saya , guru guru tidak  pernah  mempengaruhi pendapat masig masing murid, mereka cuma  mengarahkan\/mengingatkan  untuk memikirkan hal hal tersebut secara rasional  dengan  memperhatikan kenyataan  yang harus  dihadapi, jangan hanya  mengambil putusan  dari perasaan saja.  Tentunya akhirnya pembahasan hal hal tersebut akan mengerucut pada pertanyaan, apakah  ingin tetap  hidup di Indonesia atau ingin meninggalkan Indonesia dan mencari penghidupan di  Tiongkok.  Meskipun tidak pernah didiskusikan,  dari tulisan tulisan yang ada dalam buku yang  diterbitkan  pada   waktu perayaan sekolah, gambaran problema yang dihadapi sekolah Tionghoa juga saya  baca dan renungkan.  Saya  perhatikan bahwa kurikulum yang dianut sudah  dikaitkan dengan cara pemilihan kesempatan kerja\/kehidupan di Indonesia. Untuk memenuhi kualifikasi  guru, beberap kelas  matematika dan fisika  diambil dari guru SMA negeri. Bahkan  karena  mengira  Belanda  bakal  bercokol lagi di i Indonesi disekolah  juga diajarkan pelajaran  Bahasa  Belanda. Akan  tetapi usaha  usaha demikian tidak melepaskan dari persoalan utama apakah sekolah Tionghoa  memang masih relevan untuk mereka yang memang ingin  hidup dan menjadi warga Negara  Indonesia ?  Jawabannya mungkin jelas dengan kenyataan tertutupnya hampir semua  sekolah Tionghoa dikota kota kecil di Jawa. Kiranya renungan ini dapat dijadikan penutup tulisan  periode III.\n<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<p style=\"margin-left: 36pt\">\n\u00a0<\/p>\n<p>\n\u00a0<\/p>\n<\/div>\n<div style=\"font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>P E R I O D E III \u00a0 Oleh : SPL. \u00a0 Mungkin ceritera periode III ini baik dimulai dari udar rasa saya pada teman istimewa saya Hongyu yang praktis berpisah mulai dari periode II kehidupan saya : &#8221; &hellip; <a href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=892\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[45],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/892"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=892"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/892\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":895,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/892\/revisions\/895"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=892"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=892"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=892"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}