{"id":904,"date":"2014-05-19T03:26:22","date_gmt":"2014-05-19T03:26:22","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=904"},"modified":"2014-05-19T03:31:12","modified_gmt":"2014-05-19T03:31:12","slug":"r-e-n-u-n-g-a-n-d-i-h-a-r-i-t-u-a","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=904","title":{"rendered":"R E N U N G A N   D I H A R I    T U A"},"content":{"rendered":"<a class=\"wpptopdf\" target=\"_blank\" rel=\"noindex,nofollow\" href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=904&format=pdf\" title=\"Download PDF\"><img decoding=\"async\" alt=\"Download PDF\" src=\"http:\/\/blog.situsteknik.com\/wp-content\/plugins\/wp-post-to-pdf\/asset\/images\/pdf.png\"><\/a>\n<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http:\/\/quicksense.net\/ -->\n<div style=\"float:none;margin:10px 0 10px 0;text-align:center;\">\n<script type=\"text\/javascript\"><!--\r\ngoogle_ad_client = \"ca-pub-1978955812064543\";\r\n\/* situsteknik_728x90 *\/\r\ngoogle_ad_slot = \"8726851317\";\r\ngoogle_ad_width = 728;\r\ngoogle_ad_height = 90;\r\n\/\/-->\r\n<\/script>\r\n<script type=\"text\/javascript\"\r\nsrc=\"http:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/show_ads.js\">\r\n<\/script>\n<\/div>\n<div class=\"pf-content\"><p>                                                                                                                                                                   Oleh \u2013 spl.\n<\/p>\n<p>           Beberapa  waktu lalu, saya  mendapat  forwarded email  dari  teman  yang  berisi &#8221; Renungan hari ini  \u2026.. TUA.   Rupanya  penulisnya  yang  membuat renungan dihari  tua  itu dan coba  mengutarakan   hasil renunganya  untuk   sharing bersama  rekan rekan yang umurnya  sudah cukup tua  sedang  dalam  &#8221; mood &#8221; tertentu. Ada  2  points  diakhir  renunganya  yang  tertulis :&#8211;\n<\/p>\n<p>6.    Kasih   orang  tua kepada  anak tidak  ada  batasnya,  kasih  anak  terhadap orang tua ada  batasnya.  Sadarlah.   Anak  sakit  hati orang  tua teriris iris.  Orang tua  sakit, anak hanya nengok dan tanya tanya  doang. Anak  memakai uang  orang tua  sudah  seperti  keharusan, tetapi orang tua memakai uang  anak  pasti  tidak  leluasa. Oleh karena  itu  CUKUPILAH  diri  sendiri dan  berikan pada  anak  sebijaksana  mungkin.\n<\/p>\n<p>7.   Rumah orang tua  adalah  rumah  anak, tetapi rumah anak  bukan rumah  orang  tua.  Orang tua  selalu memberi tanpa  pamrih,  tetapi  tidak semua  anak akan  berbakti kepada  orang tua.\n<\/p>\n<p>         Terus   terang, saya  tidak jelas  bagaimana &#8220;mood&#8221; penulis  renungan ini ketika ia  mencetuskan pendapatnya, namun  sangat terasa  bahwa ia sedang  terlalu  pesimistis. Oleh  karena iapun pasti  sadar bahwa hubungan orang tua  dan  anak yang ia  &#8221; amati  dan  utarakan &#8220;;  tidak berlaku secara umum.  Namun  bukan hal itu yang menarik saya untuk memberikan komentar tentang apa yang ia tulis,  karena  pada  intinya  hal ini  adalah  tanggung  jawab untuk  berbakti pada  orang sebagaiman  diajarkan  dalam filosofi Confucianisme ( Konghucu )  dan dianut  oleh sebagian besar orang keturunan Tionghoa dimanapun ia berada dan telah dianggap  sebagai salah  satu  keunggulan  warisan budaya Tionghoa.  Saya  sengaja  menggunakan memilih kata  tanggung  jawab  dalam pengertian hukum;  yaitu secara hukum modern apakah kita memang bertanggung jawab merawat orang tua  ??  Karena saya coba menganalisanya dari  segi hukum kehidupan sosial  manusia  zaman kini,  mana yang kita anggap benar??   Sebenarnya secara  hukum dinegara-negara  modern, tanggung  jawab  sesorang  adalah pada generasi dibawahnya  sampai yang bersangkutan menjadi dewasa..  Jadi  tanggung jawab  seseorang  adalah pada  anaknya dan  bukan sebaiknya atau dua-duanya. Akan  tetapi,  semua  budaya  didunia  menekankan rasa cinta  dan perbuatan berbakti pada  orang tua, hanya  mungkin  budaya Tionghoa yang  lebih menekankan hal itu, sehingga mencintai dan  berbakti pada orang tua menjadi  tolok ukur baik tidaknya  prilaku seseorang  dan  sering  dianggap  sebagai tanggung jawab hukum juga.<br \/>\n<!--more-->\n<\/p>\n<p>       Sebagai keturunan Tionghoa  yang hidup pada  zaman  modern kini, saya dapat merasakan dilemma dan kesukaran untuk  menjalankan warisan  budaya Tionghoa  ini sesuai  pemikiran aslinya.  Justru  setelah  saya  menjadi orang yang berusia  lanjut dan  merupakan  peran objek dari hal yang dibahas  tersebut;  saya  berani mengutarakan  pendapat  saya yang mungkin dianggap ekstrim. Dasar pendapat saya ini  didasari alasan praktis  untuk kebaikan  bersama orang tua dan anaknya. Bahwa  sebagai orang tua  yang baik;   sudah  menjadi   tanggung jawab   utamanya untuk  merawat ,  membesarkan dan mendidik anak2-nya serta  membekali kemampuan yang baik untuk kemudian  melepaskan mereka dalam perjuangan dan karir hidup mereka dimasyarakat.  Rasanya tidak ada  yang tidak setuju tentang  hal  ini  dan menyanggah  tanggung  jawab ini.  Juga  tugas ini  seharusnya dilakukan dengan perasaan kasih  sayang dan  rasa memiliki anak2-nya serta  dilakukan dengan sepenuh  hati serta pengorbanan tanpa  pamrih.  Peran dan pengorbanan orang tua ini terutama  dilakukan oleh ibunya anak anak;  meskipun hal ini sering  dianggap wajar wajar  saja. Dapat dimengarti orang tua  yang telah melaksanakan hal itu dan pada  hari tuanya  membutuhkan dan mengaharapkan   cinta  kasih  dan perhatian  dari anak anaknya juga  sangat wajar . Namun kondisi  anak anaknya  mungkin biasanya belum terlalu mapan karena mereka  juga sibuk mengejar  karir dalam perjuangan hidupnya dan harus  membesarkan, merawat dan membekali bekal hidup untuk anak anak mereka;  oleh  karena  itu mungkin tidak dapat  memberi perhatian penuh kepada kebutuhan orang tua seperti yang di-idam idamkan orang tua. Celakanya umumnya orang tua  menjadi sangat perasa\/sensitif  ketika  mengetahui kemampuan dan kesehatanya menurun banyak, sehingga  kesedihan  akibat idaman pengharapan akan  prilaku  anak anaknya  yang belum tercapai , menjadi beban yang lebih\/sangat  berat.\n<\/p>\n<p>            Kita  semua  umumnya  akan terharu  atas  ceritera  ceritera  kuno, bagaimana  seseorang anak berbakti pada  orang  tuanya, namun jarang  yang  berpikir lebih lanjut, karena kadang kadang  kesan cerita menjadi agak  lain, jika anda menempatkan diri sebagai orang tua yang menerima bakti anaknya dalam cerita tersebut  dijaman  modern ini.  Mungkin banyak dari  teman teman yang mendengar cerita kuno  dari Tiongkok tentang anak yang sangat  berbakti; sehingga pada  waktu  musim panas, ia berjam jam mengipasi tempat tidur orang tuanya agar ketika orang tua tidur,  ranjangnya sudah terasa sejuk. Dan ketika  banyak nyamuk dikamar orang tuanya, ia  rela  tiduran dan membiarkan diri  digigiti nyamuk agar nyamuk nyamuk menjadi kenyang dan tidak menggigit orang tuanya  lagi   Pada   musim  dingin, ia  sengaja tiduran diranjang  orang  tuanya agar panas  badanya membuat tempat tidur orang tuanya menjadi hangat, meskipun  dirinya berasa kedinginan setengah mati.  Semua  orang tentu akan terharu mendengar cerita ungkapan keberbaktian sang anak;  akan tetapi pernahkan anda menanyakan bagaimana perasaan  orang  tua tersebut  ketika anaknya berbuat demikian ?? Sebagai orang tua  modern, mungkin anda akan marah dan berkata :- &#8221; orang tua  macam apa  yang  tega  hati membiarkan anaknya  menjadi umpan nyamuk ??&#8221;  Ibu ibu yang cerdas  mungkin berteriak mengapa orang tua bodoh amat, bikinkan  kelambu saja kan beres ?  Oleh karena  itu, dalam persoalan berbakti pada orang tua,  kita sebaiknya menempatkan diri sebagai  si anak maupun  sebagai orang tua; agar perspektif yang kita lihat menjadi lebih objektif. Selain dari itu, mungkin kita lebih realistis jika menempatkan kejadian pada keadaan sosial  ekonomi  sekarang.\n<\/p>\n<p>          Dimuka  saya  sudah mengatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat modern,  tanggung jawab  sesorang  adalah pada generasi bawahnya;  namun  kiranya sayang sekali  jika  filosofi  terpuji  budaya Tionghoa agar anak berbakti pada orang tuanya seharusnya  dilestarikan juga. Penerapan filosofi tentunya harus berdasarkan pola  dan  kondisi  kehidupn modern sekarang ini,  jangan dipakai kondisi kuno sebagai dasar tolok ukur.  Mengingat kita orang  tua yang menjadi objek keberbaktian, ada  baiknya kita mulai dengan introspeksi prilaku diri,   apa telah  dapat memupuk  rasa dan prilaku berbakti dari anak anak kita ??  Saya  percaya kasih saying orang tua  pada anak anak pada  dasarnya  adalah tanpa pamrih; mungkin kemudian timbul harapan agar anak membalas budi   dengan mencintai dan berbakti pada orang tua.  Kiranya kita sebagai  orang tua setuju  bahwa  penngharapan tersebut perlu dibatasi agar pengharapan ini tetap wajar dan jangan menjadi obsesi,  sehingga pengharapan berubah menjadi keharusan; karena jika demikian maka cinta kasih orang tua pada anak anaknya menjadi ADA PAMRIH.  Kita merawat dan memelihara anak JANGAN  DIANGGAP  SEBAGAI INVESTASI;  karena jika demikian persoalan  berbakti menjadi persoalan bisnis.   Kedua, kita  sebagai  orang tua juga  harus melihat perubahan kondisi sosial  masyarakat dan makin beratnya perjuangan hidup generasi muda dibanding  kondisi kita  dulu  yang  menjadi  generasi tua. Sebagai contoh, coba kita tengok kembali keadaan di Indonesia. Waktu kita lulus perguruan tinggi dari jurusan yang terpakai, dengan mudah kita mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang memadai dan umumnya masih diberikaan fasilitas tempat tinggal dan transportasi yang layak.  Jika prestasi kerja kita baik dan hidup wajar sehingga dapat menabung,  biasanya dalam 10 tahun kita sudah dapat membeli rumah sederhana dan perabotanya, meski  kadang kadang  ada yang memerlukan sedikit bantuan dari keluarga.\n<\/p>\n<p>         Setelah kita merenungkan hal hal yang saya sebut diatas, tentunya teman teman ingin tahu apa sih saran prilaku sebaiknya dari orang tua jaman sekarang ?? Dalam renungan yang saya terima tersebut, banyak nasihat bagimana sebaiknya orang tua berprilaku. Sebagai contoh pada no. 6 diatas, nasihat agar  orang tua mencukupi diri sendiri dan tidak semua hartanya diberikan pada anak anak adalah nasihat yang baik.  Menurut saya, mencukupi diri sendiri memang  pelaksanaanya agak sukar diterjemahkan dengan benar, sebab pertama tentunya tidak semua orangtua mempunyai kebutuhan yang sama dan kedua &#8220;resources&#8221; masing masing  orang tua juga berbeda. Jika  persediaan untuk diri sendiri terlalu besar, nanti setelah orang tuanya meninggal, sisa uangnya menjadi warisan untuk yang berhak ( anak anak  ). Jika  terlalu kecil, nanti bisa bisa tidak mencukupi kebutuhan.  Pembagian warisan ini yang sering sering  menyebabkan pertengkaran anak anak, bukan karena nilainya saja, tetapi ada pihak pihak yang merasa haknya diambil\/dirampas. Dalam sejarah dunia, sering sering perang saudara  adalah perang yang paling dahsyat.  Memang selama kita masih hidup, kita dipaksa  membuat keputusan yang selalu beresiko, jadi  mau tidak mau kita harus menentukan kebijaksanaan sebijaksana mungkin, tetapi harus sadar bahwa resiko keputusan kita harus ditanggung  sendiri  akibatnya. Mengenai warisan yang belum dibagi, saya sih condong untuk diberikan pada institusi pendidikan atau yayasan amal-bakti  yang anda  percayai.  Jika  kita  bijaksana, sebaiknya  kita  tanamkan  sejak kecil pada anak anak kita bahwa  alangkah terpujinya prilaku berbakti pada orang tua, karena  semua orang tua tentu mengharapkan  kondisi\/nasib anaknya lebih baik daripada orang tuanya.  Mengharap prilaku  serta prestasi  yang  baik  anak anaknya dimasyarakat , sehingga  membanggakan orang tua. Yang juga mugkin perlu di-ingat  adalah semua  hal itu perlu disertai keteladan prilaku orang tua.   Bagaimana pendapat teman teman sesama warga usia lanjut ??.<\/p>\n<\/div>\n<div style=\"font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh \u2013 spl. Beberapa waktu lalu, saya mendapat forwarded email dari teman yang berisi &#8221; Renungan hari ini \u2026.. TUA. Rupanya penulisnya yang membuat renungan dihari tua itu dan coba mengutarakan hasil renunganya untuk sharing bersama rekan rekan yang umurnya &hellip; <a href=\"https:\/\/blog.situsteknik.com\/?p=904\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[45],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/904"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=904"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/904\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":907,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/904\/revisions\/907"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.situsteknik.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}